![]() |
Ilustrasi perempuan sedang membaca buku (pexel.com/PolinaTankilevitch)
|
Apa yang Seharusnya Dilakukan oleh Negara dengan Minat Baca Terendah di Dunia?
Temans, kamu udah tahu belum, sih, kalau menurut UNESCO, Indonesia itu minat bacanya berada di peringkat terendah kedua seluruh dunia? Ya, semengerikan itu.
Menilik data dari UNESCO minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Itu berarti hanya ada 1 dari 1.000 orang Indonesia yang berminat membaca. Sementara berdasarkan survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) per tahun 2020 penduduk Indonesia yang membaca buku hanya 10%. Wah, sangat-sangat memprihatinkan, ya.
Padahal membaca itu bisa dikatakan sebagai kebutuhan pokok kita, lho. Tanpa membaca kita tidak tahu apa pun. Wawasan kita terhenti. Ilmu yang kita miliki pun tidak bertambah. Tidak hanya itu, membaca juga bisa membuat kita bisa belajar untuk berpikir kritis. Jadi, bisa dibayangkan betapa suramnya hidup tanpa membaca.
Terus apa, sih, yang bisa dilakukan oleh Indonesia atau negara dengan minat baca rendah agar bisa meningkatkan minat baca tersebut? Ada 6 cara yang harus dilakukan. Yuk, simak!
1. Mengidentifikasi penyebab rendahnya minat baca
Penting untuk mengetahui akar masalah yang menyebabkan rendahnya minat baca di sebuah negara. Apakah karena kurangnya akses ke buku, kurangnya fasilitas perpustakaan, atau faktor budaya?
Nah, dengan memahami penyebabnya, negara tersebut dapat membuat program yang tepat sasaran. Badan Pusat Statistik (BPS) atau pihak terkait bisa melakukan survei untuk mengidentifikasi penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu. Misalnya per enam bulan atau satu tahun sekali.
Kalau di Indonesia, sepertinya fasilitas perpustakaan sudah cukup lengkap, ya. Terbukti dengan Perpusnas yang menjadi perpustakaan tertinggi di dunia, yaitu 126,3 meter. Total lantainya ada 27. Terbayang selengkap apa bukunya, bukan? Namun, itu di Jakarta. Untuk perpustakaan daerah kita tidak tahu bagaimana kondisinya.
2. Meningkatkan akses ke buku dan bahan bacaan
Negara dapat membangun lebih banyak perpustakaan, toko buku, dan tempat baca lainnya. Selain itu, negara juga dapat memberikan subsidi untuk buku atau membuat program pertukaran buku.
Saat ini Indonesia sudah mulai melakukan pembuatan tempat baca di beberapa fasilitas umum. Namun, masih sedikit peduli dengan adanya pojok baca. Hanya segelintir orang yang memanfaatkannya.
Jadi, negara memang harus memberi anggaran yang cukup untuk meningkatkan akses masyarakat ke buku dan bahan bacaan. Tidak seharusnya Indonesia memangkas anggaran untuk Perpusnas seperti yang terjadi saat ini.
3. Mengembangkan program literasi yang menarik
Program literasi tidak harus selalu membosankan. Negara dapat membuat program yang menyenangkan dan interaktif, seperti kegiatan membaca bersama, lomba menulis, atau workshop tentang buku.
Di Indonesia kegiatan seperti itu lebih sering diadakan oleh penerbit, toko buku, atau komunitas pembaca. Jarang sekali pemerintah atau negara mengadakan kegiatan semacam itu. Kalaupun ada, tidak ada pemberitahuan yang luas kepada masyarakat.
Semestinya, hal itu bisa dilakukan sesekali di akhir pekan atau liburan panjang. Bisa dilakukan di Perpusnas dan perpustakaan daerah serta mengajak perpustakaan kampus atau sekolah untuk berpartisipasi. Bukan malah menutup fasilitas perpustakaan di hari libur.
Bukankah para pekerja kantoran baru bisa libur di akhir pekan? Mereka butuh hiburan tidak hanya ke mal atau rebahan. Bagi yang memiliki minat baca, mereka ingin pergi ke perpustakaan.
4. Menggunakan teknologi untuk meningkatkan minat baca
Di era digital ini, teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan minat baca. Negara dapat membuat aplikasi atau platform digital yang menyediakan buku-buku digital secara gratis atau dengan harga terjangkau.
Perpusnas daring bisa dijadikan sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak bisa pergi ke Perpusnas atau membeli buku. Perpusnas juga memiliki web dan aplikasi bernama iPusnas. Bermodal internet masyarakat sudah bisa membaca buku original tanpa harus keluar dari rumah.
Jadi, tidak ada alasan untuk kita tidak membaca buku, ya, Temans.
Link mengakses Perpusnas daring via web: https://www.perpusnas.go.id/
Link mengakses iPusnas via web: https://ipusnas.id/
Link mengunduh iPusnas via Google Play: https://g.co/kgs/aZJZDnu
5. Melibatkan keluarga dan masyarakat dalam meningkatkan minat baca
Minat baca dapat ditumbuhkan sejak dini. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan keluarga dan masyarakat dalam upaya meningkatkan minat baca. Negara dapat membuat program pelatihan untuk orang tua tentang cara membacakan buku kepada anak-anak mereka, atau mengadakan kegiatan membaca bersama di lingkungan masyarakat.
Sebenarnya untuk hal ini pemerintah Indonesia lewat Kemdikbud sudah memfasilitasi. Ada beberapa website resmi dari Kemdikbud sudah memiliki sejumlah dongeng anak berbentuk audiobook dan fail berekstensi pdf yang bisa diunduh. Selain itu, ada website resmi Kemdikbud yang merekomendasi buku untuk anak agar bisa dibeli oleh orang tua. Ada kategori umur dan kelas, dari Paud sampai SMA, sehingga orang tua bisa memilihkan mana yang cocok untuk anaknya.
Link melihat rekomendasi buku cerita anak:
https://buku.kemdikbud.go.id/sastra-masuk-kurikulum/rekomendasi-buku
Link mengunduh cerita anak berdasarkan usia:
https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/dongeng-propela/
Link membaca, mendengarkan, dan mengunduh buku semua jenjang:
6. Menciptakan lingkungan yang mendukung minat baca
Negara dapat membuat kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membaca. Selain itu, negara juga dapat membuat acara-acara yang berkaitan dengan buku dan literasi, seperti festival buku atau pameran buku.
Sama seperti poin ketiga, acara-acara yang disebutkan di atas, sering kali diadakan oleh penerbit, toko buku, maupun komunitas pembaca dan penulis. Jika dari pemerintah mengadakan biasanya sosialisasinya kurang. Kemdikbud atau Balai Bahasa harus lebih berusaha untuk menggiatkan acara-acara yang mendukung minat baca seperti yang sudah disebutkan.
Generasi Z bisa dijadikan sasaran kampanye. Bisa melalui media sosial atau kegiatan-kegiatan kekinian yang menarik minat mereka. Bisa juga kegiatan menarik minat baca itu dilakukan di tempat-tempat nongkrong anak muda. Ada banyak cara dan tempat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung minat baca. Tergantung bagaimana pemerintah yang menginisiasi.
Setelah melakukan berbagai upaya tersebut, diharapkan minat baca masyarakat dapat meningkat dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Semoga Indonesia bisa terus melakukan 6 upaya ini. Jadi, tidak ada masyarakat Indonesia ber-SDM rendah. Minat baca negara Indonesia pun bisa meningkat setiap tahunnya.
Yuk, Temans, kita ikut meningkatkan minat baca di Indonesia. Kita mulai dari diri sendiri. Ingat, membaca itu adalah sebuah kebutuhan. Lewat membaca kita bisa menjangkau dunia.
0 Komentar
Silakan berikan komentar Anda dengan sopan