Postingan kali ini merupakan salah satu tugas kuliah yang aku kerjakan di semester 1. Cara menganalisis masih sangat standar, tetapi semoga dapat membantu teman-teman yang ingin belajar. Hehe ... alasan yang sebenarnya aku mengunggahnya adalah untuk mengisi kekosongan blog semata.
foto: Buku Konsierto di Kyoto
(Tidak memiliki foto dengan kualitas bagus. Buku dipinjam teman dan tidak kembali.)
Mochtar
Pabottingi
Tetaplah Seorang Balita
Dalam
buku kumpulan puisi Mochtar Pabottinggi Konsierto di Kyoto terbitan Bentang
Pustaka kita akan menemukan satu puisi yang berjudul Untukmu Bunda. Sudah dapat
ditebak untuk siapa puisi itu dibuat. Puisi yang ditulis dengan bahasa
sederhana tetapi indah dan sarat makna. Sudah barang pasti puisi ini dibuat dengan
tulus dan merupakan curahan hati terdalam dari Mochtar Pabottinggi untuk sang
bunda.
UNTUKMU BUNDA
Bunda, alangkah deras
waktu berlalu
Membuat segala sosok
bertukar rupa. Atau lumer
seperti salju
Kecuali rumah yang
puluhan tahun engkau bangun
Bersama ayah. Dalam
kalbuku
tempat jiwaku
tetirah saban gundah
Rumah tempatku
bertumpu untuk melanglang
Bagai liang belalang
di pohonan. Sebelum
ia mencelat ke
padang-padang
Alangkah fana semua
yang di sisi
Kecuali wajah,
kerudung, dan tadarusmu. Yang terus
menyelimutiku
dengan wangi kesturi
Di hadapanmu, Bunda,
tetaplah aku anak balita
Dengan ubun-ubun
rawan yang terus berdenyut
tanpa suara
Jauh dan tembus waktu
2012
|
Bunda,
alangkah deras waktu berlalu
Membuat
segala sosok bertukar rupa. Atau lumer
seperti salju
Kecuali
rumah yang puluhan tahun engkau bangun
Bersama
ayah. Dalam kalbuku
tempat jiwaku tetirah
saban gundah
Rumah
tempatku bertumpu untuk melanglang
Bagai
liang belalang di pohonan. Sebelum
ia mencelat ke
padang-padang
Makna
dari bait-bait di atas yaitu meskipun waktu terus berjalan dan berlalu serta
membuat seseorang tumbuh dari kecil hingga dewasa bahkan wajahnya pun berubah
tetapi orang tua tetapnya menjadi yang terpenting di hati. Orang tua tetaplah
’rumah’ bagi setiap anak untuk pulang dan berkeluh kesah saat ia telah
berkelana menjelajahi kehidupan lebih jauh. Orang tua tetaplah menjadi obat
pemulih terbaik saat anak sedih. Orang tua menjadi pendidik yang pertama dan
utama sebelum seorang anak menjalani kehidupannya sendiri.
Alangkah
fana semua yang di sisi
Kecuali
wajah, kerudung, dan tadarusmu. Yang terus
menyelimutiku dengan
wangi kesturi
Makna
bait di atas adalah semua yang kita alami dan orang-orang yang masuk dalam
hidup kita bersifat tidak abadi. Tetapi semua hal tentang ibu serta doa-doa ibu
untuk kita akan terus melekat dalam diri seperti wangi kesturi yang harumnya
tahan lama.
Di
hadapanmu, Bunda, tetaplah aku anak balita
Dengan
ubun-ubun rawan yang terus berdenyut
tanpa suara
Jauh
dan tembus waktu
Makna
dari bait terakhir puisi tersebut yaitu sesukses apapun, seterkenal apapun
nama, dan sedewasa apapun seorang anak tetaplah orang anak bagi ibu. Seorang
anak tetaplah seperti balita yang perlu ibu perhatikan, curahi kasih sayang dan
bimbingan. Selamanya seperti itu meski jarak yang membentang dan waktu terus
berlalu.
Begitu
dalam makna yang ingin Mochtar Pabottinggi sampaikan kepada pembaca meski
landasan utama penulisannya pasti Mochtar desikasikan untuk sang ibu. Puisi
tersebut tidak berbelit-belit dan tidak penuh kiasan sehingga kita tidak perlu
merenungkannya dengan sangat seperti saat membaca puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.
Diksinya sungguh mudah dimengerti. Mungkin ciri khas ini mencoba dibangun oleh
Mochtar.
Selain
dikenal sebagai intelektual ia juga dikenal sebagai sastrawan jadi pantas saja
jika ia mampu menciptakan puisi indah nan romantis seperti puisi-puisi yang tertuang
dalam Konsierto di Kyoto.
0 Komentar
Silakan berikan komentar Anda dengan sopan